[ Abstract ]

Dry eye is a growing eye health problem and is one of the most common complaints found in optometrist practice. This research aimed to compare the position of temporal incision and the position of superior incision after the cataract operation using fakoemulcification technique. The research was a prospective cohort research which was conducted at Community Eye Medical Clinic, Makassar, during three months period. There were 50 subjects of the temporal incision group consisting of 26 males (52%) and 24 females (48%), who met the inclusive criteria, and 50 subjects of the superior incision group consisting of 26 males (52% and 24 females (48%). The majority of the samples were 61- 70 years old in each group. The dry eye examination was carried out subjectively using the Ocular Surface Disease Index (OSDI) score, and the objective examination using Schirmer 1 test, Break up Time (BUT) test, and fluoresin test with Oxford pattern. These examinations were conducted before and after the operation for the evaluation on the 7th and the 30th days for both groups. The research showed that the position of the superior incision caused less dry eye compared to the temporal after the Phacoemulcification operation on the 30th day based on the category of the OSDI score in the subjects without dry eye before the operation; and that was also found after the operation using the Phacoemulcification technique on the 30th day based the the category of fluoresin test with Oxford pattern in subjects with dry eye before the operation. An insignificant difference was found after the Phacoemulcification operation based on the the category of Schirmer test, BUT test, and fluoresin test in the subjects without dry eye before the operation; the insignificant difference was also found in the subjects with the dry eye before the operation at the category of OSDl, Schirmer test, and BUT test.

 

Keywords: Dry eye, facoemulcification, OSDI, Schirmer, tear brake up time, flouresin


[ Abstrak ]

Dry eye merupakan masalah kesehatan mata yang terus berkembang dan merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan pada praktek dokter mata. Penelitian ini bertujuan membandingkan dry eye pascaoperasi katarak dengan teknik operasi fakoemulsifikasi antara letak insisi temporal dan superior. Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif yang dilaksanakan di Balai Kesehatan Mata Masyarakat Makassar selama tiga bulan. Terdapat 50 subjek untuk kelompok insisi temporal yang memenuhi kriteria inklusi terdiri dari 26 orang (52%) laki-laki dan 24 orang (48%) perempuan serta juga terdapat 50 subjek untuk kelompok insisi superior yang memenuhi kriteria inklusi terdiri dari 26 orang (52%) laki-laki dan 24 orang (48%) perempuan. Sampel terbanyak pada kelompok umur 61-70 tahun pada kelompok masing-masing. Dilakukan pemeriksaan dry eye secara subjektif dengan menggunakan skor ocular surface disease index (OSDI) dan pemeriksaan objektif dengan tes Schirmer I, test break up time (BUT), dan tes fluoresin dengan pola oxford. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebelum dan sesudah operasi yang dievaluasi pada hari ke-7 dan hari ke-30 untuk kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa letak insisi superior  kurang menimbulkan dry eye dibanding temporal berdasarkan skor OSDI setelah fakoemulsifikasi hari ke-30 pada subjek tanpa dry eye sebelum operasi, demikian juga bila berdasarkan tes fluoresin dengan pola oxford setelah fakoemulsifikasi hari ke-30 pada subjek dengan dry eye sebelum operasi, tetapi tidak ada perbedaan signifikan pascaoperasi fakoemulsifikasi berdasarkan tes Schirmer, BUT dan fluoresin antara letak insisi temporal dan superior pada subjek tanpa dry eye sebelum operasi serta berdasarkan skor OSDI, tes Schirmer dan BUT pada subjek dengan dry eye sebelum operasi

Kata kunci: Dry eye, fakoemulsifikasi, OSDI, Schirmer, tear breakup time, fluoresin