[ Abstract ]

Rural community had a this research aimed to investigate the sosial institution of the forest management, to investigate the impact of technology on the social institution of forest management, and to investigate impact of the accessibility on the social institution of forest management. This research comprised four stages, namely the secondary data collection, the primary data collection, the data analysis using SPSS (Statistical Product and Service Solutions) which included the Bivariat analysis, chi square test, Coefficient Contingent Lambda and conclusion. This research respondents included 30 people. The research results indicated that the respondents whit the moderate accessiblity had the weak category institution of 52,4%, and strong category had slightly lower of 47,6%. On the other hand the respondents whit high accessibility had the strong category intstitution in the 77,8%, and the far lower category of 22,2%. The chi square test and the contingency coefficient correlation test indicated the accessibility correlation with the insignificant institution. The use of the technology indicated that the category which had never used technology had the strong institution of 53,8%, the weal category was lower of 46,6%. Meanwhile, the subject whit the use of technology were sometimes had the strong category intstitution of 75%, and the far weaker of 25%. The Chi square test and the contingent coefficient correlation test indicated an insignificant. The conclusion this research showing that every rural community had different institution, the accessibility can changing that institution, and the technology can changing institution of from mutual cooperation be privat cooperation  

 

Keywords: Social institution, accesibility, and technology


[ Abstrak ]

Masyarakat pedesaan memiliki suatu bentuk aturan yang biasa di sebut dengan pranata sosisal. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui pranata sosial pengelolaan hutan di Desa Cenrana Baru, mengetahui peran teknologi terhadap pranata sosial pengeleloaan hutan, dan mengetahui peran aksesibilitas terhadap peranata pengelolaan hutan. Penelitian ini meliputi empat tahap yaitu pengumpulan data sekunder, pengumpulan data primer, analisis data dengan SPSS (System Sosial Science) meliputi analisis bivariate chi-square dan Coefficient Contingent Lambda dan penarikan kesimpulan. Responden dalam penelitian ini sebanyak 30 orang. Hasil penelitian menujukan responden dengan aksesibilitas sedang memiliki pranata kategori lemah sebesar 52,4% dan kategori kuat sedikit lebih rendah sebesar 47,6%.  Sebaliknya responden dengan aksesibilitas tinggi memiliki pranata kategori kuat sebesar 77,8% dan kategori lemah jauh lebih rendah sebesar 22,2%.  Berdasarkan uji Chi_square dan uji korelasi koefisien kontigensi menujukan hubungan aksesibilitas dengan pranata tidak signifikan. Berdasarkan penggunaan teknologi  menujukan kategori tidak pernah menggunakan teknologi memiliki pranata kuat sebesar 53,8% dan kategori lemah lebih rendah sebesar 46,6%.  Sedangkan subjek dengan penggunaan teknologi kadang-kadang memiliki pranata kategori kuat sebesar 75% dan kategori lemah jauh lebih rendah yakni sebesar 25%. Berdasarkan uji Chi_square dan uji korelasi koefisien kontigensi menujukan hubungan aksesibilitas dengan pranata tidak signifikan. Kesimpulan dalam penelitian ini Tiap-tiap dusun di desa Cenrana Baru memiliki sistem pranata pengelolaan yang berbeda-beda, aksesiblitas dapat merubah sistem pranata pengelolaan lahan, dan teknologi dapat merubah sistem gotong royong menjadi sistem sewa.  

 

Kata kunci: Pranata sosial, aksesibilitas, dan teknologi