[ Abstract ]

Stroke is a cerebrovascular disease which continues to be a major problem in the health sector.  This research aimed to investigate the effect of the repetitive transcranial magnetic stimulation on the depression improvement after the ischemic stroke. The research was conducted with the trial Clinical study on 27 ischemic stroke patients, divided into 2 groups, namely the research group and the control group. The research group consisted of 22 patients receiving rTMS therapy while the control group consisted of 5 patients with ischemic stroke without receiving the rTMS therapy. The rTMS therapy was conducted in two sessions, the first session was once a day for 5 consecutive days for 30 minutes, followed by a two day break, then continued with the second session once a day for 5 consecutive days for 30 minutes. The degree of the depression improvement was assessed using Hamilton Depression Rating Scale (HDRS). The assessment was conducted twice, on the first day and on the fifteenth day of the research. The scores were then compared according to the depression degrees. The differences of the HDRS scores of the two groups were compared. The research results indicated that the mean difference of HDRS scores in the depression degree was highest in the group receiving the therapy of rTMS (11.5) compared to the group not receiving rTMS therapy (2.50). Wilcoxon Test revealed a significant improvement of depression in the research group (p<0.05 or p=0.001), while in the control group it showed insignificant improvement (p>0.05 or p=0.059). The differences of HDRS scores was higher in the research group (16.50) compared to that in control group (3). Meanwhile, Mann-Whitney test revealed a significant difference (p<0.05 or p=0.001).

 

Keywords: rTMS, depression post ischemic stroke, Hamilton Depression Rating Scale (HDRS).


[ Abstrak ]

Stroke adalah salah satu penyakit pembuluh darah otak yang terus menjadi masalah utama dalam bidang kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek repetitive transcranial magnetic stimulation (r-TMS) pada perbaikan depresi pascastroke iskemik. Penelitian dilakukan dengan studi clinical trial terhadap 27 orang penderita pascastroke iskemik yang terbagi ke dalam dua kelompok (penelitian dan kontrol). Kelompok penelitian terdiri atas 22 orang yang mendapat terapi r-TMS dan kelompok kontrol 5 orang dengan depresi pascastroke iskemik tanpa terapi r-TMS. Terapi r-TMS dilakukan dalam dua sesi. Sesi pertama, sekali sehari selama lima hari berturut-turut selama 30 menit. Kemudian istirahat selama dua hari dan dilanjutkan sesi kedua sekali sehari selama lima hari berturut-turut selama 30 menit. Tingkat perbaikan depresi dinilai dengan menggunakan skor Hamilton depression rating scale (HDRS). Penilaian dilakukan dua kali, yaitu pada hari ke-1 dan ke-15 penelitian, kemudian membandingkan skor HDRS sesuai tingkat depresi dan membandingkan selisih skor HDRS pada kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selisih mean skor HDRS pada tingkat depresi paling tinggi pada kelompok yang mendapat r-TMS (11,5) dibandingkan kelompok yang tidak mendapat r-TMS (2,50). Dengan menggunakan uji Wilcoxon didapatkan perbaikan bermakna pada kelompok penelitian p<0,05 (<0,001) dan pada kelompok kontrol tidak didapatkan perbaikan bermakna p>0,05 (0,059). Selisih skor HDRS pada kelompok penelitian (16,50) lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (3). Dengan menggunakan uji Mann-Whitney didapatkan perbedaan bermakna p<0,05 (0,001).

 

Kata kunci:  r-TMS, depresi pascastroke iskemik, Hamilton depression rating scale (HDRS)